Senin, 09 Juni 2014

SMAN 1 Batu Raih UN Tertinggi

SMA Negeri 1 masih terbaik dibandingkan dengan SMA lainnya di Kota Batu. Status terbaik didapatkan SMA Negeri 1 berdasar perolehan rata-rata hasil ujian nasional (unas) 2014, yakni mendapat angkat 7,42.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dindik Raga, Abdul Rais mengatakan, meski tahun ini Dindik Provinsi Jatim tidak mengumumkan peringkat SMA se-Jatim, tapi pihaknya tetap melakukan itu khusus se-Kota Batu agar tercipat kompetisi sehat antar sekolah. Rais hanya memperingkat 10 besar tingkat SMA saja untuk dipublikasi.

Untuk peringkat kedua sampai 10, diduduki SMA Al Izzah, Madrasah Aliyah (MA) Bilingual, MA Negeri Batu, SMA Negeri 2, SMA Khatolik Yos Sudarso, SMA Immanuel, MA Ma'arif,  SMA Selamat Pagi, dan SMA PGRI. SMA Negeri 2 posisinya hanya di peringkat kelima.

Dari peringkat yang ada, masih fluktuasi. Seperti SMAN 2 diperingkat kelima, nanti Dindik Raga menganalisis matapelajaran yang dinilai kurang memuaskan dan dicari potensi di sekolah tersebut. "Kami ingin tahu peta sekolah, sebenarnya sekolah yang rendah alasannya apa. Apakah menejemen sekolah atau kopetensi guru. Ini untuk unas tahun depan," kata Rais, pekan lalu.

"Kami menggunakan kriteria peringkat ini berdasarkan rata-rata hasil nilai unas murni yang diperoleh para siswa di sekolah masing-masing. Tujuannya,  kami ingin menginisiasi sendiri, paling tidak pencapaian unas tahun depan bisa lebih baik antar sekolah," paparnya.

Pemeringkatan itu, sambung Rais juga untuk memetakan kondisi sekolah. Misalnya, kelemahan bidang studi siswa dari hasil unas kemarin. Mengapa sekolah A siswanya ada yang mendapatkan angka 10 di salah satu bidang studi, mengapa sekolah B tertentu nilainya rendah.

Setelah bisa memetakan itu, Rais akan memberikan perlakuan terhadap sekolah tersebut. Apakah masalahnya ada di menejemen sekolah, sumberdaya guru, atau pada sumberdaya siswanya. "Pemetaan ini supaya peningkatan mutu pendidikan di Batu terukur," sambungnya.

Bagaimana dengan perbedaan fasilitas antar sekolah? Kata Rais,kriteria tersebut belum dihitung. Sebab, jika itu dimasukkan dalam kriteria, maka analisis itu tidak fokus. "Yang jelas, kami jadikan dasar kejujuran untuk mengukur dan memberikan perlakuan serta persiapan lebih dini kepada siswa," tukasnya.

Ia memisalkan, tahun ini siswa SMA/SMA lulus 100 persen, tahun depan, selain yang digarap target lulus 100 persen, juga nilai para siswa harus naik. Rais mengaku mempunyai instrumen praujian nasional dan validasi untuk pelacakan dini kemampuan siswa di masing-masing bidang studi yang diunaskan.

Sehingga siswa yang dianggap rendah di bidang studi diberi perlakuan khusus. Seperti para guru dari semua sekolah diajak bedah standar kopetensi kelulusan (SKL) dan dindik juga mengundang orang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Kedua, kami memberitahukan ke sekolah tentang siswa yang lemah di mata pelajaran agar diberi perlakuan. Misal, diberi pelajaran tamabahan di luar jam sekolah, atau memperbaiki menejemennya,"ujar dia. (Hay)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar