Jumat, 15 November 2013
Pengangguran masih Tinggi
Menurutnya, job fair tersebut menyediakan 1380 lowongan dari 27 perusahaan yang ikut ambil bagian. Sedangkan perusahaan-perusahaan di Kota Batu sendiri menyediakan 300 lowongan. "Penyedia lowongan adalah Jatim Park Group," tegas mantan Kabag Humas dan Protokoler Pemkot Batu.
Humas Pemkot Batu Belum Punya Website
Sinal Abidn (Kabag Humas Pemkot Batu) |
Ditengah suburnya informasi menggunakan teknologi
informasi seperti sekarang ternyata belum ditangkap secara kerja nyata oleh
Pemerintah Kota Batu. Karena sampai usia Kota Batu yang mencapai 12 tahun, Bagian
Humas Pemkot Batu belum juga mempunyai website.
Kepala Bagian Humas Pemkot Batu,
Sinal Abidin membenarkan sampai saat ini institusi yang ia peimpin massih belum
mempunyai website sendiri. Website yang sudah ada atau www.batukota.go.id yang
sekarang itu bukan dikelola oleh Bagian Humas, melainkan oleh Dinas Perhubungan
dan Informatika.
Namun, ia memastikan pada tahun 2014
nanti, pihaknya sudah mempunyai website sendiri. Yang bisa memberikan informasi
tentang kota wisata ini secara online dan memberikan informasi yang selalu up
date.
“Kita sedang melakukan penganggaran
pada RAPBD tahun 2014. Ya doakan saja rencana itu bisa berjalan sesuai dengan
rencana. Kita sekarang sedang dalam tahap pembahasan,”kata Sinal , kemarin.
Secara umum, Sinal masih belum
menjelaskan secara gamblang soal kebutuhan anggaran atau anggaran yang
dibutuhkan untuk penambahan piranti elektronik berupa website tersebut. Yang jelas
saat ini sedang mempersiapkan sumberdaya manusia yang akan mengoperasikan dan
mengisi website tersebut.
Sementara itu, Direktur Kajian
Kebijakan Publik Kota Batu, Ulul Azmi, menyayangkan kalau pada saat maraknya
informasi teknologi sebuah instusi resmi atau corong dari pemerintah tidak
mempunyai website. Padahal melalui media itu masyarakat umum bisa melihat
perkembangan kota ini. Padahal tidak peduli jarak dan waktu masyarakat bisa
memlihat atau memantau perkembangan kota ini.
Kondisi itu, kata dia, tidak
seiriang dengan gencaranya promosi wisata atau promosi potensi kota. “Sebanarnya
sebagai masyarakat kota wisata yang hebat ini malu. Masak kota yang sudah
termasuk maju tidak mempunyai website sendiri. Harapannya hal tersebut segera
direspon positif oleh pemerintah daerah dengan cara segera membuat atau
merancang website yang tepat untuk memberikan informasi tentang isi dan
perkembangan kota ini,”kata dia.
Seperti diketahui berdasarkan data Pusat Informasi dan Humas Kementerian
Komunikasi dan Informatika dinyatakan rendahnya peringkat Indonesia disebabkan
rendahnya ketersediaan infrastruktur TIK.
Pengguna internet di Indonesia
diperkirakan baru mencapai 50 juta orang atau sekitar 20 persen dari jumlah
penduduk. Dari 180-an perusahaan penyedia jasa internet, sekitar 150 perusahaan
di antaranya beroperasi di Jabodetabek. Sisanya
berada di kota-kota besar , seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan
Makassar.pendidikan seks
Pendidikan Seks Itu Perlu
Munculnya kasus video asusila pelajar SMP di Jakarta menunjukkan betapa pengetahuan seks di kalangan anak dan remaja masih minim. Karena itu, perlu gerakan nyata penambahan jam pendidikan seks di sekolah guna meningkatkan pemahaman tentang seksualitas di kalangan remaja muda.
Sepertinya program edukasi seks, hanya sebuah wacana belaka. Jadi melihat banyaknya kasus yang ada pendidikan seks di sekolah itu haruslah terealisasi. Setidaknya bisa dijadikan ekstrakurikuler di sekolah yang bersifat wajib. Hendaknya dalam masalah ini pihak swasta yang sudah berpengalaman juga dilibatkan.
Dalam program tersebut, juga akan disebarkan buku Rapor Kesehatanku, yang berisi pantauan kesehatan organ tubuh dan reproduksi secara keseluruhan.
Untuk membantu anak memperoleh pendidikan seks di rumah, juga perlu menggalakkan pemberian buku Kesehatan Ibu dan Anak. Buku ini akan diperkaya dengan pengenalan organ reproduksi pada anak hingga berusia lima tahun. Buku ini diharapkan bisa membantu orangtua memberikan pendidikan seks sedini mungkin pada anak.
Ya pendidikan seks di sekolah saat ini masih sangat terbatas. Pendidikan seks dipotong-potong dan hanya disisipkan ke dalam berbagai mata pelajaran.
Dalam pelajaran tersebut, anak sebatas mengetahui dan menghafal organ seks, tanpa mengerti apa bahaya jika menggunakan atau memegang sembarangan. Pengetahuan tersebut tidak cukup menuntun anak bersikap dan berperilaku lebih baik, menghadapi lingkungan yang terus berkembang.
Edukasi seks sebenarnya tidak hanya terdiri atas kerugian berhubungan seks pada usia dini. Di dalamnya juga termasuk menjaga organ seksual dari ancaman orang lain dan memeliharanya agar tetap sehat.
Untuk pendidikan seks di sekolah, seharusnya tak hanya terdiri atas pengetahuan yang memperkaya kemampuan akademik dan kognitif anak. Pendidikan ini harus diperkaya pengetahuan yang membuat anak bisa bersikap dewasa, sesuai perkembangan kemampuan seksnya.
Pendidikan ini juga harus cukup membuat anak berperilaku lebih baik, menyikapi lingkungan sekeliling yang terkadang menularkan norma dan sikap tidak patut dicontoh. (Redaksi)
Tim P1 Adipura Sudah Pantau 60 Titik
Jalan Panglima Sudirman Batu yang dinilai tim Adipura |
Tahun 2014 ini Kota Batu sudah mempersiapkan diri secara matang dalam penilaian Adipura. Sebanyak 60 titik pantau penilaian Adipura sudah siap dinilai oleh tim penilai P1 Adipura 2014.
Hal itu diungkapkan
oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan Hidup, Kantor
Kehutanan dan Lingkungan (KLH) Kota Batu, Wahyu Sri Prihantono, usai
mendampingi tim penilai P1.
Menurut dia
secara umum kota ini sudah siap. Karena sebelumnya sudah melakukan koordinasi
dengan pihak-pihak atau leading sektor lainnya.
Ia juga
ungkapkan tim penilai P1 Adipura tahun 2014 yang sudah melakukan penilaian di Kota Batu
itu terdiri 3 orang. Antara lain penilai dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi
Jatim, Kementerian Lingkungan Hidup dan LSM Sahabat Lingkungan.
"Tahun
ini ada titik pantau baru yang potensi dan dimasukkan, misalnya Hutan Kota. Tujuan titik pantau baru ini adalah untuk
menguatkan penilaian, "kata Wahyu
Sri Prihantono.
Ia menjelaskan bahwa, titik pantau yang dinilai meliputi permukiman, jalan, pasar, pertokoan,
perkantoran, sekolah, RS/Puskesmas, perairan terbuka, terminal, taman kota/hutan
kota, TPA, pemilahan sampah dan pengolahan sampah.
"Selama
sehari ada sekitar 60 titik pantau yang di kunjungi oleh tim penilai P1 adipura.
Ada hal yang menguatkan dibanding tahun
lalu, TPA Tlekung yang sudah menghasilkan gas metan dan kita juga sudah
mempunyai huta kota," lanjut Wahyu .
60 titik
pantau yang dikunjungi tim penilai selama sehari di Kota Batu, diantaranya
adalah, TPA, Hutan Kota (eks stadion
bondas ), alun-alun, salter Jalan Panglima Sudirman, KLH, Kantor DPRD, Pasar Besar Batu, SDN Temas
01, SDN Sidomulyo 01, SMPN 01, SMPN 03, SMAN 01 dan SMAN 02. Sekaligus Puskesmas Batu dan Puskesmas.
Menurut
Wahyu, hasil penilaian tim P1 itu kemungkinan besar baru bisa diketahui pada
bulan Mei 2014. Karena penganugerahan Adipura ini bersamaan dengan hari
lingkungan hidup. Sedangkan Kota Batu ini termasuk dalam kriteria penilaian
kelas kota sedang.
“Harapannya,
pada saat itu Kota Batu bisa mendapatkan anugerah Adipura. Setidaknya bisa menjadi penghibur pada saat
ulang tahun kota ke 12,”kata Wahyu didampingi Kepala KLH Kota Batu, Muklis.
Ibu yang Peduli Pendidikan
Senyum men
Pendidikan itu penting dan tanpa disadari banyak manfaatnya. Demikian diungkapkan ibu ini ketika membicarakan soal pendidikan.
Menurut dia, apa yang ia sampaikan itu tak lepas dari pengalaman hidupnya. Disamping karena dorongan dan contoh dari orangtuanya.
"Ketika itu pernah terpikir buat apa kuliah segala. Eh, tahu-tahu kuliah yang dilakukan bermanfaat dan ada hikmahnya,"kata ibu yang menempuh pendidikan strata satunya di Akademi Perbankan Malang (ABM) atau STIE Malangkucecwara pada jurusan manajemen keuangan ini.
Jadi, kata dia, siapapun terutama anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di sekolah tidaklah menyepelekan pendidikan yang ditempuh. "Ya pendidikan itu pasti ada manfaatnya,"kata ibu ini mengulang kata-katanya.
Tak heran, ibu ini cukup memberikan perhatian lebih kepada pendidikan. Itu terlihat dari perhatian kepada pendidikan putra-putrinya. Termasuk kebijakan yang dilakukan dalam bekerja.
Ibu Ana suami dari Bambang (wirastawan) bidang agrobisnis ini seorang ibu dari tiga anak, pertama dr Rahma yang sedang menempuh spesialis penyakit dalam di Unair, kedua Lotus seorang fotografer profesional dan Tata siswi kelas V SD di Madiun.
"Mereka ada di Madiun. Jadi, setiap hari Jumat saya harus kesana. Bagaimanapun keluarga menjadi prioritas," kata ibu kelahiran Madiun, 26 September 1963 ini.
Ibu alumni strata 2 Universitas Gajayana ini dalam kebijakan pekerjaan banyak memberi warna pada pendidikan di kota wisata Batu. Seperti telah memberikan bantuan kepada siswa miskin, memberikan hadiah-hadiah pada berbagai perlombaan tingkat pelajar melalui tabungan Bank Jatim.
Pada bulan Juni lalu, Bank Jatim dibawah pimpinan ibu ini berperan penting dalam pemberian Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebagai kompensasi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat itu petugas bank ini turun langsung ke sekolah untuk melakukan pendataan. Pencairan dana itu bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Batu.
Selanjutnya, dalam HUT ke 12 Kota Batu mulai bulan lalu hingga sebulan mendatang, peran Bank Jatim cukup besar. Yakni memberikan support ke beberapa kegiatan dan perlombaan.
Ibu yang mempunyai hobby tenis sejak masih belia dulu ini menuturkan dukungan yang diberikan itu merupakan bagian dari tugas. Alasannya, sebagai bank daerah haruslah menyatu dengan daerah tersebut.
Bagi ibu yang penuh semangat ini tahun 2013 ini merupakan tahun ke 22 berkarya di Bank Jatim. Jadi, jabatan yang ia sandang saat ini bukanlah instan belaka. Dimulai dari staf, kepala bagian, wakil pimpinan cabang telah dilalui.
"Saya mulai masuk Bank Jatim tahun 1991. Ya tentu mulai dari staf di Ngawi,"kata anak pertama dari 3 bersaudara ini.
Selama kurun waktu 22 tahun bekerja sudah beberapa tempat ia lakoni. Mulai Ngawi, Magetan, Ponororogo dan Kota Batu sendiri. (Nien/Hay)
yejukkan, itulah yang terjadi saat tim Suara Pendidikan
menjumpai ibu ini. Dia adalah Ana, Pimpinan Cabang Bank Jatim Kota Batu
ketika ditemui di ruang kerjanya, kemarin.Menurut dia, apa yang ia sampaikan itu tak lepas dari pengalaman hidupnya. Disamping karena dorongan dan contoh dari orangtuanya.
"Ketika itu pernah terpikir buat apa kuliah segala. Eh, tahu-tahu kuliah yang dilakukan bermanfaat dan ada hikmahnya,"kata ibu yang menempuh pendidikan strata satunya di Akademi Perbankan Malang (ABM) atau STIE Malangkucecwara pada jurusan manajemen keuangan ini.
Jadi, kata dia, siapapun terutama anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di sekolah tidaklah menyepelekan pendidikan yang ditempuh. "Ya pendidikan itu pasti ada manfaatnya,"kata ibu ini mengulang kata-katanya.
Tak heran, ibu ini cukup memberikan perhatian lebih kepada pendidikan. Itu terlihat dari perhatian kepada pendidikan putra-putrinya. Termasuk kebijakan yang dilakukan dalam bekerja.
Ibu Ana suami dari Bambang (wirastawan) bidang agrobisnis ini seorang ibu dari tiga anak, pertama dr Rahma yang sedang menempuh spesialis penyakit dalam di Unair, kedua Lotus seorang fotografer profesional dan Tata siswi kelas V SD di Madiun.
"Mereka ada di Madiun. Jadi, setiap hari Jumat saya harus kesana. Bagaimanapun keluarga menjadi prioritas," kata ibu kelahiran Madiun, 26 September 1963 ini.
Ibu alumni strata 2 Universitas Gajayana ini dalam kebijakan pekerjaan banyak memberi warna pada pendidikan di kota wisata Batu. Seperti telah memberikan bantuan kepada siswa miskin, memberikan hadiah-hadiah pada berbagai perlombaan tingkat pelajar melalui tabungan Bank Jatim.
Pada bulan Juni lalu, Bank Jatim dibawah pimpinan ibu ini berperan penting dalam pemberian Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebagai kompensasi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat itu petugas bank ini turun langsung ke sekolah untuk melakukan pendataan. Pencairan dana itu bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Batu.
Selanjutnya, dalam HUT ke 12 Kota Batu mulai bulan lalu hingga sebulan mendatang, peran Bank Jatim cukup besar. Yakni memberikan support ke beberapa kegiatan dan perlombaan.
Ibu yang mempunyai hobby tenis sejak masih belia dulu ini menuturkan dukungan yang diberikan itu merupakan bagian dari tugas. Alasannya, sebagai bank daerah haruslah menyatu dengan daerah tersebut.
Bagi ibu yang penuh semangat ini tahun 2013 ini merupakan tahun ke 22 berkarya di Bank Jatim. Jadi, jabatan yang ia sandang saat ini bukanlah instan belaka. Dimulai dari staf, kepala bagian, wakil pimpinan cabang telah dilalui.
"Saya mulai masuk Bank Jatim tahun 1991. Ya tentu mulai dari staf di Ngawi,"kata anak pertama dari 3 bersaudara ini.
Selama kurun waktu 22 tahun bekerja sudah beberapa tempat ia lakoni. Mulai Ngawi, Magetan, Ponororogo dan Kota Batu sendiri. (Nien/Hay)
Dikdas Dindik Anggarkan Pengadaan Komputer Rp 54 Juta
![]() |
Esti DA (kiri) |
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Batu
Esti Dwi Astuti menuturkan anggaran yang ia dapat itu dipergunakan untuk
pengembangan kurikulum 2013. Terutama untuk perbaikan sarana perangkat komputer.
Untuk kebutuhan itu mendapatkan anggaran sebesar Rp 54 juta.
“Sebenarnya dana itu termasuk kecil, tetapi bagaimanapun
akan membantu pelaksanaan kurikulum 2013. Piranti akan dibelikan beberapa unit komputer,
sebagai bagian dari pengembangan kurikulum,”kata Esti ketika dihubungi via
ponselnya kemarin.
Pengadaan itu, nantinya akan dikelola secara swakelola. Artinya
akan diadakan sendiri. “Sesuai aturan dana sebesar itu bisa dilakukan
penunjukan langsung,”katanya.
Seperti berita sebelumnya, limpahan dana yang lain dari
kegagalan block office itu antara lain dipergunakan untuk pengadaan meubeler
sebesar Rp 1,8 miliar, untuk penambahan ruang kelas di beberapa sekolah yang
nilainya mencapai Rp5 miliar.(sp)Rahmat Shigeru Ono, Tentara Jepang Terakhir di Indonesia
Rahmad Sigeru Ono |
Ketika Jepang resmi menyerah pada sekutu dalam Perang Dunia II tahun 1945, ada 324 tentara Nippon yang memilih tetap tinggal di Indonesia. Dari jumlah itu, kini hanya tersisa satu orang saja. Namanya Shigeru Ono.
ADA raut kebahagiaan yang luar biasa dari air muka Shigeru Ono (95) ketika Konsul Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya, Noboru Nomura beserta rombongan berkunjung ke kediamannya di Jl Cemara Kipas 74, Kota Batu, beberapa waktu lalu. Kebahagiaannya semakin membuncah ketika mengetahui Ketua Yayasan Warga Persahabatan (YWP), Heru Santoso beserta rombongan YWP Jakarta dan Surabaya spesial datang ke Kota Apel hanya untuk sowan ke rumahnya.
Untuk diketahui, YWP merupakan organisasi yang mengayomi warga keturunan Jepang di Indonesia. Sedangkan yang hadir dalam pertemuan santai kemarin itu adalah generasi kedua dari keturunan tentara Jepang. Sehingga tak mengherankan, ketika mereka semua berkumpul, suasana hangat penuh keakraban begitu terasa kental. Sayup-sayup sering pula terdengar guyonan yang saling mereka lontarkan dalam Bahasa Jepang.
Oleh-oleh istimewa berupa minuman sake, sekotak rumput laut kering atau nori, kipas hias, dan sumpit dari Nomura mampu membuat Ono tertawa lepas meski dia tak lagi bisa menatap jelas benda-benda di sekitarnya. “Arigatou gozaimasu, saya sangat senang sekali. Meski kondisi saya seperti ini, masih banyak yang peduli,” tutur pria kelahiran Hokaido, 26 September 1918 ini terpatah-patah mengawali perbincangan santai siang itu.
Kepada seluruh tamu, pria yang juga dikenal dengan nama Sakari Ono ini mengurai kisah hidupnya mulai saat menjadi tentara Jepang hingga saat menikmati masa tua sekarang. Secara kasat mata, tubuh Ono memang tak lagi setegap ketika masih menjadi tentara. Sejak tahun 2005, tongkat setinggi pinggangnya menjadi kawan setia langkahnya. Kedua matanya juga tak lagi bisa melihat semenjak tiga tahun silam.
Sementara, lengan kirinya memang sudah diamputasi sejak lama karena terluka saat agresi Militer Belanda II. Kendati demikian, lantas tidak membuat Ono berdiam diri. Meski tubuhnya melemah dimakan usia, spirit kerja keras, sifat humoris, dan ideologi kejujuran yang dia pegang teguh tak pernah lekang oleh usia. “Waktu tiba di Indonesia saya masih perjaka ting-ting lho. Tapi bukan untuk cari jodoh tujuan saya tetap menetap di Indonesia. Saya murni ingin membantu Indonesia dalam merebut kemerdekaannya,” ucap pria yang mendapat gelar kehormatan Bintang Gerilja dari Presiden Soekarno tahun 1958 ini.
Pada awal kedatangannya di Wlingi, Blitar, bersama ratusan kawannya, Ono menampik bahwa tujuan tentara Jepang ke Indonesia adalah untuk menjajah. Hal itu, berbanding berbalik dengan fakta sejarah yang diuraikan dalam buku sejarah di sekolah. Sejatinya, pada tahun 1942, dia ditugaskan di Jabar dan Jatim untuk melatih militer pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Sebab, perjuangan rakyat Indonesia kala itu belum berjalan efisien karena strategi dan persenjataan militernya minim. Selain itu, hubungan Ono dengan semua warga Indonesia yang dia latih diterima dengan tangan terbuka dan kedatangannya selalu di-support oleh warga sekitar. Hubungan tersebut membuktikan bahwa tentara Jepang tidak sekejam seperti apa yang dituliskan dalam buku sejarah.
Namun, saat terjadi peristiwa peledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, kondisinya mulai mencekam. Saat itu, Jepang secara resmi menyerah dengan tentara sekutu. Alhasil, sebanyak 903 yang berada di Indonesia mengalami pergolakan tajam. Beberapa ada yang dibunuh dan melakukan bunuh diri (harakiri). Tapi, ada pula yang bisa kembali ke Jepang dengan selamat. “Saya sendiri memilih untuk tetap di Indonesia. Sebab, hal ini berkaitan dengan janji dan komitmen. Sejak semula para tentara berjanji pada kaisar Jepang untuk membantu memerdekakan Indonesia,” ujarnya lirih.
Untuk melaksanakan niat tulusnya itu, Ono bersama 324 tentara Jepang bergabung bersama tentara Indonesia. Mereka masuk dalam anggota Pasukan Gerilja Istimewa (PGI) dan berjuang bersama dalam mencapai cita-cita Indonesia Merdeka. Ono juga mantap menjadi Warga Negara Indonesia dan merubah namanya menjadi Rahmat. Bahkan, supaya keluarga di Jepang tidak mencarinya, dia mengirimkan potongan rambut dan kukunya sebagai simbol supaya keluarganya mengira dia sudah gugur dalam peperangan.
Di Batu, Ono atau Rahmat memilih menjadi petani apel. Hanya saja pekerjaan yang digelutinya sejak puluhan tahun lalu itu terhenti tiga tahun lalu, setelah Ono merasa tak kuat lagi menjadi petani.
Sekitar tahun 1950, dia menikah dengan wanita pribumi bernama Darkasi. Hingga sekarang mereka dikaruniai 9 anak, 13 cucu, dan 9 cicit. Namun, pada tahun 1982, Darkasi meninggal dunia. Patut digarisbawahi Ono menjadi satu-satunya eks tentara Jepang yang masih hidup hingga sekarang setelah kematian Eji Miyahara atau Umar Hartono pada 16 Oktober 2013 silam. Eji tinggal di Jakarta. “Saya beruntung memilih tetap di Indonesia. Tapi sayangnya saat ini banyak sekali korupsi yang dilakukan pejabat. Terus terang saya merasa jengkel, karena kemerdekaan tidak kami rebut dengan mudah. Tolong hargai kami para pejuang dengan melenyapkan budaya korupsi,” tandasnnya.(berbagai sumber)
Langganan:
Postingan (Atom)