Minggu, 26 Mei 2013

SMP Soleman Batu



SMP Soelaiman Tetap Eksis, Meski Banyak  yang Meragukan Keberadaanya

SMP Soelaiman  kini masih saja tetap eksis, meski banyak orang juga sempat meragukan keberadaannya. Ketika dulu, sekolah tersebut  memang seolah-olah akan tenggelam oleh waktu, karena gedung  dan fasilitas yang sangat  tak memadai ketika itu.  Untuk menggunakan gedung saja, SMP itu harus bergantian dengan SMK Edith, sehingga siswa SMP Soelaiman harus pulang sore, bahkan tak jarang pulang malam.
“Melihat Kondisi ketika dulu, memang sangat mengaharukan. Jadi wajar saja kalau keraguan itu muncul. Pertukaran kelas itu terjadi sejak saya masuk tahun 1996 dulu. Namun  hal itu bukan menjadi hambatan yang besar bagi sekolah kami dalam berusaha memecahkan persoalan tersebut. Akhirnya bantuan dari Pemerintah setempat melalui Dinas Pendidikan bergulir, sehingga sekolah kami pun bisa masuk pagi  seperti biasa,” ungkap Mistiani S.Pd, Kepala Sekolah Soelaiman,  Senin (6/5). 
Perkembangan Pendidikan dari tahun ke tahun tentunya mengalami kemajuan di negeri ini, jumlah sekolah pun terus bertambah  baik itu sekolah negeri maupun swasta.  Sehingga persaingan pun menjadi ketat, mulai sarana dan prasana, fasilitas dan mutu dipertaruhkan.  Akan tetapi SMP Soelaiman yang tergolong pinggiran pun, mampu  bertahan hingga sekarang.
Semakin menjamurnya sekolah-sekolah negeri ataupun swasta, hal itu tak menjadi hambatan SMP Soelaiman terus berjuang dalam bersaing. Kini  gedung dan fasilitas di sekolah ini sudah terpenuhi, meski muridnya tak banyak seperi dulu yang mencapai 145 siswa keseluruhan dalam 3 kelas, mulai kelas 7 hingga kelas 9 . Namun sekarang jumlah total keseluruhan cuma 45 siswa  dari 3 kelas.
“Buktinya  kemarin saja kita masuk 10 besar di olimpiade sains, yakni urutan ke 6 se-tingkat Kota,ujar wanita asli Batu itu. (Aam)

singkirkan kabut pendidikan KWB



Singkirkan Kabut Suram  Pendidikan Kota Batu

Telah diketahui bersama , Kejari Kota Batu telah menahan RM. Zakaria dan sejumlah pejabat Dindik Kota Batu tersangka kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan.  Kasus ini bermula saat Dindik Kota Batu menerima anggaran DAK 2010 sebesar Rp 3,42 miliar. Penggunaannya dibagi menjadi dua termin. Termin pertama sebesar Rp 1,7 miliar  digunakan untuk pengadaan buku literature yang dibagikan kepada 19 SD. Termin kedua dana sebesar Rp 1,7 miliar dipergunakan untuk pengadaan alat peraga pendidikan dan salah satu itemnya pengadaan komputer untuk sekolah penerima dana termin pertama. Dugaan korupsi ada pada termin kedua, karena belum semua paket alat peraga seperti paket komputer belum diterima pihak sekolah. Pihak sekolah hanya menerima monitor saja, sementara untuk CPU belum pernah diterima.
“ Kalaupun tidak dikorupsi tetap terindikasi salah, dari cara penggunaannya saja sudah menyalahi aturan. Dan ingat! Jumlah tiga koma empat puluh dua milyar itu masih tingkat Sekolah Dasar,” tukas Ulul Azmi, Pusat Kajian Kebijakan Publik Kota Batu. Azmi menunjukkan KEPUTUSAN WALIKOTA BATU NOMOR : 180/ 61 /KEP/422.012/2010 TENTANG PENETAPAN SEKOLAH PENERIMA BANTUAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN DI WILAYAH KOTA BATU TAHUN ANGGARAN 2010 Tanggal 19 April 2010,  yang menyebutkan bahwa  Kegiatan Peningkatan Mutu Sekolah dilaksanakan secara swakelola oleh Kepala  Sekolah penerima bantuan. Terlibatnya CV. Blambangan dalam pengadaan sudah menyalahi arti swakelola dalam SK Walkot tersebut.

Pusat Kajian Kebijakan Publik Kota Batu mendapatkan laporan dari masyarakat yang menginformasikan sejumlah penyimpangan terkait DAK Bidang Pendidikan Tahun 2010 untuk peningkatan mutu pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Kota Batu. Menurut sumber PK2P Kota Batu, indikasi penyimpangan penerima DAK SMP Negeri 05 Bumiaji sebesar Rp. 550.500.000,-  yang tidak jelas penggunaannya. Sementara SMP PGRI 01 Kota Batu sesuai ketentuan harusnya menerima bantuan DAK Rp. 205.500.000,- , menurut sumber PK2 P hanya sirealisasikan senilai Rp. 70 juta. Itupun, finisingnya dibebankan pada sekolah. “ Semua itu masih kita dalami mas,” cetus Azmi. Masih banyak keluhan masyarakat yang diterima PK2P soal DAK Bidang Pendidikan 2010. Di antaranya DAK yang diterima SMP 06 Bumiaji sebesar Rp 306 juta dan SMP Arjuno Bumiaji yang menerima DAK sebesar Rp 330 juta.
“ Kami tidak pernah menerima anggaran sebesar itu. Yang kami terima adalah bentuk barang,” kata Drs. Sugeng Subagyo, Kepala SMP Darusholihin Kota Batu, saat dikonfirmasi SP, terkait dana sebesar Rp. 340,5 juta yang harusnya di kelola sendiri. Lain halnya dengan dengan Drs. Barokah Santoso, M.Pd ketika dikonfirmasi soal DAK 2010, dia mengatakan tidak pernah menerima dana yang dimaksud. “ Waktu itu, kami hanya menerima pembangunan dua unit lokal kelas yang ditangani langsung oleh pak Roiz,” jelas Barokah kepada SP via telephon seluler. 
Berdasar Surat Keputusan Walikota tersebut PK2P Kota Batu, menyebut bantuan DAK untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) sejumlah Rp. 4.409.460.000,-(Empat milyar empat ratus sembilan juta empat ratus enam puluh ribu rupiah) untuk 27 sekolah penerima. “ Yang ini, sepertinya  lepas dari sorotan,” gumam Azmi.    Padahal, menurut lulusan Sekolah Demokrasi Angkatan VI Kota Batu itu banyak indikasi penyimpangan di lapangan. “ Saya masih menunggu kiriman hasil data audit Badan Pemeriksa Keuangan soal itu,” imbuh Azmi yang merasa kesulitan mengakses informasi yang harusnya terbuka untuk publik tersebut. “ Tunggu saja, kebatilan pasti terbongkar,” pungkas dia. (Tim)

Selasa, 09 April 2013

Batu Corner Cafee


JOSEPH AIDARSJAH, enggan meninggalkan mBatu lagi


JOSEPH AIDARSJAH
Alunan live music sayup-sayup mengiringi wawancara yang lebih pada sharing SP dengan Joseph Aidarsjah owner Batu Corner Café dan Batoe Residence, Jalan Oro-oro Ombo 1 Kota Wisata Batu. Laki-laki berkumis kelahiran 1970 dengan busana T-Shirt santai ini selalu ramah menyapa setiap tamu yang datang ke Café keluarga yang baru diresmikan 10 Nopember 2012 lalu oleh ibundanya, Sudarwati Soejoto Sidik.

            “Saya ingin memprasastikan ibu saya sebagai pahlawan, demi menebus dosa-dosa masa muda saya yang sering menyusahkan orangtua khususnya ibu saya karena kenakalan saya”, Joseph menjelaskan dipilihnya hari Pahlawan untuk grand opening café-nya dengan mata berkaca-kaca. “Saya yakin, keadaan saya sekarang ini selain hasil ketekunan dan kerja keras, juga berkat doa ibu”.
            Beralasan jika ada semacam penyesalan Joseph tentang masa lalunya yang kelam. Joseph dulunya seorang peminum dan perokok berat, juga jago berkelai. Joseph juga sekaligus seorang pekerja keras. Joseph kecil sudah diajari menjadi seorang enterpreneur, karena kedua orangtuanya juga pedagang yang cukup berhasil di masanya
            “Selulus SMA saya merantau ke Jakarta. Karena kerajinan saya di sebuah instansi, saya pun diangkat sebagai PNS golongan rendah. Jadi saya tidak punya meja kantor. Tugas saya semacam office boy, bagian disuruh-suruh gitu, ya ngantar surat, fotocopy. Karena tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta, malemnya saya ngojek. Percaya engga percaya, pernah lho ditumpangi sundel bolong,” cerita bapak lima putri ini sambil tersenyum. Tiga tahun saja Joseph bertahan bekerja monoton begitu. Akhirnya lebih memilih bekerja proyek di sebuah perusahaan nasional di bidang pembangunan landasan bandara dan sejenisnya.
             “Pendidikan itu sangat penting. Saya ingin anak-anak saya semua memperoleh pendidikan dan ketrampilan yang baik. Mungkin sistem pendidikan sekarang yang sangat canggih, atau saya yang memang bodoh ya, saya nyerah kalau harus mengajari mereka. Maka saya serahkan kepada yang memang mampu mengajari anak-anak. Ya ke pakdenya, atau ke guru lesnya”, lanjut Yoseph yang memperlakukan kelima putrinya sama. Sesekali Joseph juga mengambilkan raport anak-anak dari istri terdahulunya.
            “Saya sebenarnya lebih berkonsentrasi ke property saya, Batoe Residence. Dan Café ini dikelola istri saya, karena dia suka masak dan nyanyi juga”, ungkap suami Inun Sidik – putri sulung pemilik Warung Sidik yang sangat terkenal di era 80-an itu.
            “Saya juga ingin Batoe Residence ini benar-benar menjadi residence (tempat tinggal,red) saya bersama keluarga saya. Saya tidak ingin lagi meninggalkan Kota Wisata Batu meskipun sampai saat ini kantor saya tetap membutuhkan saya untuk proyek di Papua dan Kalimantan. Saya optimis Batu ke depan akan semakin luar biasa. Saya berharap wong mBatu yang saat ini berhasil di luar kota, punya kesadaran yang sama untuk membangun tanah kelahirannya. Itu juga salah satu alasan saya dan Inun mau memfasilitasi Koko Harsoe cs untuk show di Café kami, dia aset Kota Batu yang hebat. Dalam waktu dekat kami juga akan mengakomodir festival musik untuk menampung kreasi musisi muda kita”, Joseph mengakhiri sharing-nya (nien/es).



BKSG Kota Batu

Pengurus BKSG Dikukuhkan Walikota Batu

Bertempat di GSJA Maranatha Family (MAFA), Senin. 25 Maret 2013 Wali Kota Batu H.Eddy Rumpoko didampingi Ketua Umum BAMAG (BAdan Musyawarah Antar Gereja) Jatim Eddy M.Patinasarane, S.H., M.Si melantik Pengurus Harian dan komisi-komisi BKSG (Badan Kerja Sama Gerejawi) Kota Batu masa bakti 2013-2018.

Adapun kepengurusan BKSG Kota Batu masa bakti 2013-2018 yang terpilih dalam Musyawarah Lengkap 11 Maret 2013 adalah: Ketua Umum Pdt.M.N.L.Tobing, M.A., Ketua I Pdt.Yonathan P.Maluw, S.H.,S.Th, M.PdK, Ketua II Pdt.Mikhael M.C, S.Th. SekUm Dra.T.W.E.Ninik Santoso, Sek I Pdt.Yosias D.,M.A., Sek II Azariel, S.Sn, BendUm Pdt.Markus H, Bend I: Kristiani S, S.H. Bend II Saptanto.N.

Mengawali sambutannya, Wali Kota Batu mengatakan, bahwa Batu memang sudah terkenal, namun diharapkan peran yang baik dari para pendeta, pastur, ulama serta lembaga-lembaga strategis semacam BKSG, MUI, FKUB ikut serta memberikan informasi yang baik kepada masyarakat agar tercipta suasana kondusif dan nyaman. Tidak hanya mengandalkan kepada TNI/Polri dan pemerintah.

Lebih lanjut dikatakan, "BKSG sebagai lembaga strategis yang mewadahi gereja/lembaga Kristen/Katolik se-kota Batu, bersama para ulama lainnya diharapkan mampu menyirami umatnya dengan siraman rohani yang menyejukkan. Terutama pendidikan akhlak kepada 36 ribu anak didik di Kota Batu yang menjadi tumpuhan masa depan kita tanpa melihat perbedaan apapun. Mereka semua  diharapkan tumbuh menjadi manusia yang lebih berkualitas, bukan saja mengandalkan kemampuan ipteknya untuk mencapai ranking tertinggi saja, melainkan juga kehidupan spiritualnya." tambah ER di hadapan ratusan jemaat dalam pelantikan yang dihadiri juga oleh Wawali Kota Batu Ir.H.Punjul Santoso, M.M., Ketua Tim Penggerak PKK Dra.Dewanti Rumpoko, M.Psi dan sejumlah SKPD serta pejabat lainnya (nien).

POS KETAN Legenda


POS KETAN LEGENDA 
LENGKETKAN KASIH SAYANG…..

Keberadaan POS KETAN LEGENDA - PKL 1967 sudah sangat familiar bagi Wong mBatu dan sekitarnya, baik yang masih berdomisili di Kota Wisata Batu, maupun yang sudah muar meninggalkan kota kelahirannya.  Tak kurang dari Kris Dayanti, Yuni Shara dan banyak tokoh Batu lainnya yang selalu menyempatkan diri datang ke Pos Ketan yang selalu inovatif menyajikan menu-menu barunya  saat mereka mudik.  PKL 1967 saat ini tidak saja dikenal oleh oleh tokoh-tokoh besar tamu “kenegaraan” Walikota seperti Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan, Bondan Kuliner dan puluhan artis lainnya, namun setiap malam ratusan pengunjung selalu datang ke tempat tongkrongan baru di pojok barat Alun-Alun Batu ini menikmati ketan rasa bumbu kedelai, kicir, keju, ketan item dengan minuman hangat seperti bandrek, STMJ dan lainnya.
            “Alhamdulilaaah, kami sudah siapkan 200 kursi plus karpet, tapi masih kurang juga. Apalagi kalau malam Minggu atau high season dan cuaca cerah. Mahasiswa dan kawula muda dari Malang naik dan nongkrong di sini mulai sore, bisa sampai subuh. Tapi kami membatasi  tidak menjual maupun mengijinkan tamu untuk minum-minuman beralkohol. PKL harus menjadi tempat tongkrongan yang nyaman bagi semua orang”, papar Sugeng Hadi, pemilik PKL 1967 ini didampingi Irma, neng geulis yang telah memberikan 3 putri untuknya.
             “Ada story-nya… Dulu ibu Ayumi, ibu kami pertama kali jualan ketan di emperan toko Sidodadi tahun 1967an. Saat itu pasarnya masih di Alun-Alun Batu ini. Terus pindah ke Kantor Pos & Giro / Telkom yang sekarang jadi halaman mesjid An Nur. Itu yang kemudian mengilhami kami untuk menamakan warung kami jadi POS KETAN, bermula dari Ketan Pos”, tukas lulusan D3 Akutansi – UNIBRAW yang menempati Area Sales Manager Jawa Barat sebuah perusahaan rokok nasional ini. “Karena terlalu banyak yang pakai brand warung kami, maka atas saran sahabat kecil sekaligus ‘penolong’ kami saat kami terpuruk pada tahun 2001-2004, Mas Eko Suparisno, kami pakai tambahan nama LEGENDA 1967.  Ini juga karena kami ingin mengenang ibu kami yang luar biasa. Yang telah menghantar putra/inya sampai sarjana hanya dengan jualan ketan”, kenang pengagum Pak Harto ini.
            Perjalanan hidup berkarir dan berumah tangga Sugeng Hadi dan Irma sangat berliku. “Kami pernah sangat terpuruk…bahkan rumah tangga kami sudah di ambang kehancuran. Saya sempat pulang ke Garut. Tapi alhamdulilaaaah, karena kesetiaan dan kesabaran Mas Sugeng serta dorongan teman-teman SMPK Mas Sugeng, terutama Mas Eko, mBak Nien, Mas Adib dan lainnya. POS KETAN LEGENDA ini telah melengketkan kembali kasih sayang kami…..dan aku tidak akan meninggalkan Batu sampai seumur hidupku”, ungkap Irma tersipu-sipu.
            “Saat saya klimpungan dan nyaris kehilangan segalanya, Mas Eko memecut saya dengan gayanya. Bahkan saat orang berpikir saya sudah gila dan bisa saja melakukan hal konyol, dia membesarkan hati saya dan mengajak saya lebih mendekatkan diri kepada Sing Ngatur Urip. Saat itu rasanya saya tidak punya siapa-siapa lagi,”kenang pria yang suka menggambar dan menulis ini dengan mata berkaca-kaca, “Ketika rumah tangga dan ekononomi kami dipulihkan, bahkan dibarokahi, kami tidak perlu dendam kepada siapapun yang pernah melecehkan kami saat kami terpuruk”, tambah ayah Weny Denti Rahmawati, Dwi Sukmawati dan Trisa Wahyuni Putri ini.
            Sugeng Hadi telah membuktikan ajaran yang ada dalam keyakinan yang dianutnya, terutama dalam beramal dan bersyukur. “Luar biasa berkah dari Allah kepada kami kalau kami melakukan perintahNya, termasuk berzakat 2,5%. Bukan berarti jika diberkahi lebih, lantas menghambur-hamburkannya untuk hal yang tidak berguna. Kami harus hidup ekonomis namun tetap berbagi”, tukas Sugeng yang sudah memperkerjakan 15 tenaga dengan produk ketan 60kg per malam dan tembus 1 kuintal saat ramai.
            “Saya tidak setuju kalau IT disalahkan sepenuhnya jika terjadi perubahan perilaku kehidupan anak muda saat ini. Karena kami sendiri justru mengambil sisi positifnya. Saya tidak selalu bisa ikut pengajian dan sejenisnya, tapi tiap hari saya tetap bisa mengakses ayat-ayat suci dan kata-kata berhikmah dari HP saya. Bahkan saya mengenalkan PKL 1967 inipun via internet juga”, tukas Sugeng saat SP menanyakan pengaruh IT terhadap kehidupan bebas remaja/ kaum muda yang makin marak.
            “Yang penting adalah doa, kepercayaan dan kontrol  dari orangtua. Tidak mudah menghadapi anak-anak kita saat ini. Saat ditekan malah akan njiat. Dari segi ekonomis dan bisnis, mungkin saya senang kalau PKL ini rame. Tapi sering saya juga prihatin melihat tamu – tamu remaja putri yang  nongkrong sampai subuh dengan rokok dan sikap yang kurang santun”, imbuh nenek satu cucu yang tetap cantik dan menarik ini mengakhiri perbincangan kami yang tanpa terasa sudah hampir subuh. (nien/es)


Kolom Guru

 L.Yudiwantoro
PEREMPUAN SEBAGAI TIANG BANGSA
Oleh : L.Yudiwantoro - TK Kartika Batu

Masih terbayang bagaimana hebohnya orangtua/wali murid, khususnya ibu-ibu yang mengantar putri cantiknya tiap tanggal 21 April di masa penulis sekolah. Bukan hanya di tingkat TK atau SD, bahkan sampai di tingkat SMP dan SMA/SMK. Momen Kartinian memang merupakan saat yang ditunggu-tunggu, mengingat itulah saatnya para siswi berlomba menunjukkan kecantikan dan keluwesannya. Meskipun bukan itu tujuan utama peringatan hari Kartini.

Fenomenanya saat ini sedikit berbeda memang, karena sejatinya peringatan Kartini bukan sekedar ajang pamer kecantikan semata, melainkan lebih pada mewujudkan cita-cita seorang R.A.Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan di jamannya. Implikasi lainnya  adalah bagaimana meningkatkan derajat hidup perempuan Indonesia,  mengingat perempuan merupakan tiang sebuah bangsa, yang harus cerdas, tangkas dan trengginas tetapi tetap lembut, berperikemanusiaan dan berperikeadilan…..

Guru Taman Kanak-kanak dan Bunda PAUD yang 95% adalah perempuan, diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk ikut membantu dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Oleh karenanya, mereka haruslah mempunyai bekal yang cukup untuk bisa membimbing anak asuhnya. Mereka juga harus mampu menjadi “Ibu" sekaligus "Teman” bagi anak asuhnya. Selain itu mereka harus kembali pada stereotip lama sebagai sosok yang bisa "digugu lan ditiru" alias panutan dalam bersikap,bertutur kata yang baik. Mereka juga dituntut untuk mampu menumbuhkembangkan kreatifitas dan keceriaan, kemerdekaan, kesederhanaan serta  kesantunan pada anak asuhnya.

Terkait dengan pemahaman bahwa usia dini adalah saat tepat untuk meletakkan dasar pengembangan konsep diri, seni, moral dan budi pekerti maka pemberian stimulus yang baik pada anak sebaiknya diberikan sedini mungkin. Saat ini kesadaran masyarakat terhadap PAUD/TK cukup besar terbukti dengan semakin bertambahnya jumlah penyelenggara, guru serta anak didik yang ada di kota Batu.
Guru adalah ujung tombak dalam mata rantai pendidikan.
Maka guru diharapkan untuk selalu mengasah dan meningkatkan kemampuannya sehingga mutu pendidikan di Indonesia dapat semakin baik dan meningkat.

Terkait hal tesebut di atas, Kelompok Mentari yang terdiri dari guru dan masyarakat pemerhati PAUD serta GOPTKI Kota Batu pada 10, 12 dan 13 April 2013 akan menyelengggarakan Aneka Lomba antara lain: Pembuatan APE (Alat Permainan Edukatif), Festival Menggambar & Mewarna serta Fashion Show Kartinian duet Guru & Murid.
Kegiatan yang diharapkan diikuti oleh Guru dan Murid PAUD/TK di Kota Batu ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada guru untuk selalu mengembangkan diri dan mengasah ketrampilan agar mampu memberikan yang terbaik untuk anak asuhnya. Begitu pula bagi murid TK/PAUD, dimaksutkan untuk memberikan kesempatan melatih keberanian dan menumbuhkembangkan rasa percaya diri pada mereka.

Semoga cita-cita mulia seorang R.A.Kartini mampu kita wujudkan di era ini, sesuai dengan kapasitas kita masing-masing guna meningkatkan derajat dan kualitas SDM di masa depan.

Sukses UN


UNTUK SUKSES UN
tidak cukup hanya doa dan belajar
Tinggal hitungan hari saja, anak-anak kita khususnya yang duduk di kelas 6, 9 dan 12 akan menjalani UN. Berbagai upaya dan usaha telah dilakukan, bukan saja oleh peserta ujian melainkan juga Dindik dengan try out-nya, pihak sekolah dengan berbagai ujian pra UN, termasuk orangtua yang tidak eman-eman menyisihkan jutaan uangnya untuk membayar bimbel. Belum lagi para ulama yang juga ikut mempersiapkan mental peserta UN melalui istigotsah dan doa khusus.
Yang sering tidak disadari adalah: ternyata persiapannya ttidak cukup hanya belajar dan belajar saja, tapi juga persiapan fisik dan psikis anak didik. Tidak ada manfaatnya saat intelegensia anak dicekoki bahan-bahan UN, tapi pada hari H peserta UN tersebut sakit dan depresi.  "So what gitu loh" istilah ABG saat ini. Tak kurang dari kepala Dinkes dr.Endang  Triningsih bersama timnya juga menunjukkan kepeduliannya untuk mempersiapkan anak didik menghadapi UN. Sayang sekali gayung itu tidak serta merta disambut baik oleh semua pelaku pendidikan. Nyatanya, baru MAN 02 Kota Batu yang memanfaatkan momen motivation building yang ditawarkan dr.Endang ini.
Mungkin selama ini banyak yang tidak tahu bahwa air putih, buah-buahan, sayur mayur dan juga susu KUD yang  banyak dihasilkan petani / peternak Batu itu juga berperan penting untuk menjaga stamina peserta UN. "Meskipun bakso dan pangsit itu enak.  Tapi kandungan gizinya kurang,. Selain itu perlu dukungan dari keluarga, supaya mereka menyambut  UN dengan happy dan enjoy. Perlu dipahamkan agar anak-anak menganggap UN adalah proses biasa dalam rangkaan belajar mengajar,"tandas ibu dua putri ini dengan senyum khasnya (nien)